Senin, 30 Juni 2014

7 Puncak Tertinggi di Indonesia (Seven Summit of Indonesia)

7 Puncak Tertinggi di Indonesia (Seven Summit of Indonesia) - Indonesia mempunyaI puncak tertingginya sendiri yang sering disebut The Seven Summits of Indonesia. Puncak2 tertinggi ini diambil dari 7 pulau/kepulauan utama Indonesia, yaitu Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawawesi, NusaTengga/Bali, Maluku, dan terakhir Papua.

  • Papua, Puncak Carstensz (Puncak Jaya), Pegunugan Jayawijaya (4.884mdpl) 
7 Puncak Tertinggi di Indonesia (Seven Summit of Indonesia)
cartenz pyiramid
Puncak Carstensz termasuk dalam kawasan Pegunungan Jaya Wijaya diprovinsi Papua. Selain sebagai puncak tertinggi di Indonesia, Puncak Carstensz juga termasuk seven summit dari 7 Benua di Dunia. Di kawasan Pegunungan Jayawijaya banyak sekali keunikan alam, salah satunya yang terkenal adalah terdapatnya hamparan salju abadi.
Rute normal pendakian Cartenzs bisa dimulai dari desa Ilaga.

  • Sumatera. Puncak Indrapura, Gunung Kerinci (3.805mdpl)
7 Puncak Tertinggi di Indonesia (Seven Summit of Indonesia)
gunung kerinci
Puncak tertinggi dipulau Sumatra adalah Puncak Indrapura, Puncak Gunung Kerinci, Provinsi Jambi (kampung gue lhoo !!! ank jambi !!!). Gunung Kerinci adalah Gunung tertinggi di Indonesia, dan tidak bisa dibandingkan dengan Carstensz/Puncak Jaya, karna Carstensz terletak dikawasan pegunungan , bukan Gunung. Tetapi bila di lihat dari kategori "Puncak", Puncak Indrapura memang tertinggi kedua setelah Puncak jaya.
untuk lebih lengkapnya lo bisa liat di disini.

  • Nusa Tenggara/Bali. Puncak Gunung Rinjani (3.726mdpl)
7 Puncak Tertinggi di Indonesia (Seven Summit of Indonesia)
gunung rinjani
Gunung Rinjani adalah gunung berapi tertinggi kedua setelah Kerinci. Gunung Rinjani sangat terkenal dengan keindahan alamnya. Dipuncak gunung Rinjani kita bisa melihat Kaldehera yang sangat besar dengan Segara Anak dan gunung kecil (Gunung Baru) ditengahnya. Di danau Segara Anak banyak terdapat ikan mas dan mujair. Selain itu juga terdapat kolam air panas, yang merupakan kolam air panas tertinggi di Indonesia.
Menuju Puncak gunung Rinjani bisa ditempuh dari Pintu Senaru(600mdpl) dan pintu Sembalun(1.150mdpl).

  • Jawa. Puncak Mahameru, Gunung Semeru (3.676mdpl)

7 Puncak Tertinggi di Indonesia (Seven Summit of Indonesia)
gunung semeru
Gunung semeru yang terkenal dengan puncak Mahamerunya adalah gunung tertinggi ketiga setelah Kerinci dan Rinjani, dengan puncaknya Mahameru. Gunung Semeru berada di wilayah kabupaten Malang dan Lumajang , Jawa Timur. Selama dalam pendakian banyak spot menarik yang bisa kita temui. diantaranya Ranu Kumbolo(2.400mndpl), padang rumput Oro-oro Ombo yang dikelilingi oleh bukit yang sangat indah, Hutan cemara yang dinamai Cemoro Kandang. Arco podo(2.900mdpl), terdapat Arca kembar.
Gunung Semeru masih sering mengeluarkan gas beracun (Wedus Gembel), karna itu para pendaki disarankan untuk menuju puncak pada tengah malam dan turun kembali tidak lebih dari jam 10 pagi. Karna siang hari angin cenderung mengarah ke utara menuju Puncak yang membawa gas beracun dari kawah Jonggring Saloka.

  • Sulawesi. Puncak Rante Mario, Gunung Latimojong (3.478mdpl)
7 Puncak Tertinggi di Indonesia (Seven Summit of Indonesia)
gunung latimojong
Gunung latimojong terletak di kabupaten Enrekang, prov.Sulawesi Selatan. Gunung Latimojong mempunyai tujuh Puncak yang membujur teratur ;

  1. Buntu sinaji (2.430mdpl)
  2. Buntu sikolong (2.754mdpl)
  3. Buntu Rante Kambola (3.083mdpl)
  4. Buntu Rante Mario (3.430)
  5. Buntu Nenemori (3.097mdpl)
  6. Buntu Bajaja (2.700mdpl)
  7. Buntu Latimojong (2.800mdpl)
Akses pendakian Gunung Latimojong dimulai dari kecamatan Baraka. Puncak Rante Mario adalah puncak tertinggi Gunung Latimojong, yang ditumbuhi hutan vegetasi alam. Puncak Nenemori juga ga kalah menarik, didominasi dengan pohon tinggi besar dan jika beruntung pendaki bisa menemui anoa, hewan khas Sulawesi.

  • kep. Maluku. Puncak Gunung Binaiya (3.027mddpl)
7 Puncak Tertinggi di Indonesia (Seven Summit of Indonesia)
gunung binaiya
Gunung Binaiya merupakan gunung tertinggi dikepulauan Maluku, tepatnya di pulau Seram, terletak di kabupaten Maluku Tengah, Prov. Maluku. Titik awal melakukan pendakian adalah di (0 mdpl). Gunung Binaiya terletak di wilayah Pedalaman, sehingga fasilitas dan akomodasi untuk wisata nyaris tidak ada. Namun para pendaki bisa memanfaatkan rumah adat penduduk yang disediakan untuk menginap.


  • Kalimantan. Gunung Bukit Raya (2.278mdpl)
7 Puncak Tertinggi di Indonesia (Seven Summit of Indonesia)
gunung bukit raya
Gunung Bukit Raya terletak di kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah dan bukan merupakan gunung Berapi. Gunung tertinggi di kalimantan ini (Kawasan Indonesia) termasuk dalam kawasan pegunungan Muller Schwaner. Diambil dari taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, kawasan ini mempunyai beberapa puncak, antaranya puncak Bukit Baka(1.617mdpl), Puncak Gunung Bukit Raya (2.278mdpl), Puncak Gunung Bukit Asing (1.750mdpl), Bukit melabanbun (1.850mdpl), Bukit Panjing (1.620mdpl), Bukit panjake (1.450mdpl), dan Bukit Lesung (1.600mdpl).Untuk rute pendakian dapat dimulai dari Nanga Popai, kalimantan Barat.

Gunung Semeru, Keindahan, Sejarah, Legenda dan Cerita

Gunung Semeru, Keindahan, Sejarah, Legenda dan Cerita

Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di pulau Jawa, secara geografis letak gunung ini berada di dua wilayah administratif, yaitu wilayah Kab Malang dan Lumajang. Dengan posisi antara 8°06′ LS dan 120°55′ BT.Gunung Semeru memiliki puncak ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Mahameru adalah sebutan untuk puncaknya dan Jonggring Saloko adalah nama kawahnya.
Gunung Semeru adalah gunung jenis stratovolcano aktiv yang berada didalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Kawasan ini berada dilahan seluas 50.273,3 Hektar. selain keindahan panorama alamnya, taman nasional ini juga kaya akan budaya (suku tengger). Inilah yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara.
Gunung Semeru, Keindahan, Sejarah, Legenda dan Cerita
Danau Ranu Kumbolo
Tanah tertinggi di pulau Jawa, Ranu Kumbolo, Soe Hok Gie, dan Film 5 cm. mungkin inilah beberapa kata yang terlintas dalam pikiran saat ini ketika kamu mendengar kata “Semeru”. Kata-kata itu seolah memiliki daya magnet tersendiri bagi pendengarnya yang tidak hanya terbatas pada kelompok pencinta alam maupun traveller.

Gunung Semeru memiliki tempat yang khusus bagi umat Hindu dan Budha di Indonesia pada umumnya. karena gunung ini dipersonifikasikan sebagai gunung suci yang berada di India. dalam kosmologi Hindu dan Budha Semeru berasal dari bahasa sangsekerta yang berarti Sumeru “Meru Agung” adalah pusat alam semesta baik secara fisik maupun metafisik (spiritual). Gunung ini dipercaya sebagai tempat bersemayamnya para Dewa (Siwa). Gunung ini juga dianggap sebagai “Lingga Acala” lingga yang tidak bergerak sekaligus juga berarti lingga yang bukan diciptakan oleh manusia. Dalam bahasa Jawa Kuno, Acala memang juga diartikan gunung atau karang.. Dalam Teks-teks “Purana” India yang tergolong kitab Upaweda (penjelasan lebih lanjut atas Weda) memang menyebutkan Tuhan Yang Mahatunggal bersemayam di puncak Mahameru, yang dikenal juga dengan nama Gunung Kailasa atau Gunung Himawan.
Legenda Gunung Semeru, dalam kitab Tantu Panggelaran berbahasa Jawa Tengah, dalam bentuk prosa menceritakan, ketika tanah Jawa masih tidak seimbang, belum stabil, Batara Guru menitahkan para Dewa memenggal puncak Gunung Mahameru dari tanah Bharatawarsa (India) untuk dibawa ke Jawa. Titah itu laksanakan para Dewa. Puncak Gunung Mahameru akhirnya dipenggal, kemudian diterbangkan ke tanah Jawa dan Jatuh disisi barat pulau Jawa, tanah Jawa berguncang. Bagian timur Jawa terangkat, sedangkan bagian barat Jawa justru malah tenggelam.
Potongan puncak Gunung Mahameru itu pun dibawa kembali ke arah timur. Sepanjang perjalanan dari barat ke bagian timur tanah Jawa, bagian-bagian puncak Gunung Mahameru itu ada yang berjatuhan. bagian-bagian yang jatuh itu akhirnya tumbuh menjadi enam gunung kecil. masing-masing Gunung Katong (Gunung Lawu, 3.265 mdpl), Gunung Wilis (2.169 mdpl), Gunung Kampud (Gunung Kelud, 1.713 mdpl), Gunung Kawi (2.631 mdpl), Gunung Arjuna (3.339 mdpl), dan Gunung Kemukus (3.156 mdpl)
Begitu sampai dibagian timur ternyata pulau Jawa masih tetap tidak seimbang. Akhirnya para Dewa pun memutuskan untuk memotong bagian puncak gunung Semeru kemudian menjatuhkanya disebelah barat laut, dan potongan ini membentuk gunung baru, yakni Gunung Pawitra, atau yang sekarang akrab kita kenal dengan nama Gunung Pananggungan. Legenda gunung Semeru ini memberikan gambaran terkait penyebaran Hindu paham Siwaistis dari tanah India ke negeri Nusantara yang berpusat di tanah Jawa, dan meninggalkan pengaruh besar terhadap kepercayaan dan kebudayaan suku Tengger hingga saat ini.
selain keindahan panorama alam dan legenda keberadaannya ternyata gunung Semeru memiliki Peninggalan Arkeologi berupa Arca (Arcopodo) dan prasasti kumbolo. Menurut Dwi Cahyono, Dosen, Arkeolog Universitas Negeri Malang dalam tulisan wawancaranya disalah satu website mengatakan, prasasti kumbolo adalah prasasti yang diperkirakan peninggalan dari kerajaan Kediri. sedangkan Arcopodo diperkirakan peningalan jaman kerajaan Majapahit.
Kerajaan masa Hindu – Budha di daerah Jawa Timur dibagi ke dalam tiga periode. Periode pertama adalah kerajaan Kediri yang memerintah sejak abad ke 10M hingga tahun 1222 M. periode kedua masa kerajaan Singosari yang memerintah tahun 1222 M hingga tahun 1293 M. dan periode ketiga masa kerajaan Majapahit yang memerintah dari tahun 1293 M hingga abad ke 6. dapat disimpulkan bahwa kedua peninggalan arkeologi Gunung Semeru adalah peninggalan purbakala yang kaya akan nilai histori dan budaya.
 Gunung Semeru, Keindahan, Sejarah, Legenda dan CeritaArcopodo sendiri pertama kali ditemukan oleh alm. Norman Edwin dan Herman O Lantang, Mapala Universitas Indonesia tahun 1984. Dua tahun setelahnya, Norman kembali mendatangi dua Arca itu dan menuliskan temuannya di majalah Swara Alam pada tahun 1986. setelah itu Arcapodo tidak diketahui lagi keberadaanya, seolah Arca itu telah menghilang secara misterius dan menjadi mitos dikalangan pendaki. Barulah pada bulan November tahun 2011 Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas melakukan penelusuran untuk membuktikaan keberadaan Arca yang dianggap telah menghilang lebih dari 25 tahun itu. Hasilnya, Arcopodo yang dianggap hilang secara misterius itu ternyata tidak pernah hilang. Arca itu tetap berada ditempatnya sama saat almarhum Norman Edwin dan Herman O Lantang menemukanya. Lalu mengapa Arca ini dianggap menghilang selama beberapa tahun? Dan mengapa di Pos Arcopodo yang sekarang pendaki tidak pernah menjumpai Arca ini?
Arca dianggap menghilang setelah di publikasikan keberadaanya di majalah Swara Alam tahun 1986 karena memang tidak ada pendaki lain yang mempublikasikan atau mendokumentasikanya lagi setelah itu. Menurut penduduk sekitar, pada tahun 80an jalur pendakian ke puncak Mahameru memang dirubah ke jalur pendakian (baru) seperti sekarang ini, perubahan jalur itu sangat mungkin dan beralasan. Menurut penulis, ada dua alasan utama perubahan jalur tersebut. Pertama, perubahan jalur dilakukan untuk melindungi keberadaan ke dua Arca tersebut dari tangan orang – orang yang tidak bertanggung jawab. Kedua, terjadi kerusakan jalur pada saat itu karena adanya perubahan kondisi alam. Ini dapat dibuktikan dengan sulitnya medan yang ditempuh oleh tim Ekspedisi Cincin Api Kompas dalam tulisanya saat melakukan penulusuran tahun 2011 lalu.
Mengapa ada Arca (Arcopodo) digunung Semeru? Apa makna dari Arcopodo? Secara umum Arca adalah patung yang merupakan bagian dari tempat suci umat Hindu. Patung ini memiliki tempat yang penting. Bahkan jauh sebelum Hindu dan Budha masuk ke Nusantara (Indonesia) saat animisme dan dinamisme masih menjadi kepercayaan suku-suku di Indonesia. Patung itu memiliki peran penting terhadap upacara pemujaan roh – roh nenek moyang. Patung digunakan sebagai wadah penghubung atau tempat menampung roh yang “diundang”. Karena Semeru adalah gunung suci. Maka pantaslah jika ada Arca di gunung ini.
Menurut Pak Dwi Cahyono, sesuai namanya Arcopodo sebenarnya berasal dari kata Arca dan Pada, yang dalam bahasa Jawa yang terpengaruh Sangsekerta, pada artinya tempat. ”Jadi, Arca-Pada adalah Tempat Arca” Pak Dwi pun memberi penjelasan jika salah satu arca itu kemungkinan adalah sosok Bima. Bliau kemudian membandingkan dengan foto Arca Bima di Candi Sukuh di lereng Gunung LawuBadan dan tangannya mirip Bima.
Bima adalah perwujudan tokoh untuk tolak bala Dengan demikian, tempat tersebut merupakan pemujaan yang difungsikan untuk ritual menghalau bencana dari puncakGunung Semeru yang aktif.
Berbeda dengan Pak Dwi, penulis memiliki pandangan lain. bahwa kata Arcopodo berasal dari dua kata gabungan. Yaitu, Arco dan Podo. Arco adalah Arca dan Podo adalah Sama. Dalam bahasa Jawa, pergantian dan penggunaan huruf “o” sebagai “a” sudah umum dan menjadi ciri bahasa Jawa. Jadi dapat disimpulkan bahwa kata Arcopodo memiliki arti “Arca yang Sama” dalam bahasa Jawa. Dan jika diperhatikan foto Arca diatas memang terdapat kesamaan dari segi bentuk, tinggi dan ukuran. Arcopodo adalah dua Arca yang sama?
Lalu apakah benar Arcopodo itu adalah Arca perwujudan sosok Bima? Penulis juga memiliki pandangan lain yang berbeda dengan Pak Dwi. Menurut penulis, Arcopodo adalah Arca prwujudan dari Dewa Kala dan Anukala. Kala dan Anukala ini memiliki kedudukan yang sama dengan Nandicwara dan Mahakala. Jika merujuk pada buku Prof. Soekmono, Candi Fungsi dang Pengertianya, Nandicwara dan Mahakala dalam bagian Candi ditempatkan sebagai Dwarapala, arca penjaga yang terdapat di pintu masuk bagunan Candi. Jadi Arcopodo adalah Arca penjaga namun bukan Arca Bima?
Dalam kitab Tantu Panggelaran yang diperkirakan dibuat abad ke 15 itu memberikan penjelasan penempatan para Dewa dan memberikan keterangan bahwa gunung Mahameru dijaga oleh Gana pada gapura timurnya, oleh Agasti pada gapura selatanya, oleh Gauri pada gapura utaranya dan oleh Kala dan Anakula pada gapura baratnya. (Dr. Pigeaud 1924:96-97) dikutip oleh Prof. Dr. R Soekmono. Dalam bagunan suci Candi, posisi letak Dewa-Dewa ini tidak pakem terhadap arah. Posisi Dewa ini bergantung terhadap arah (kiblat) bagunan Candi tersebut.
Jadi menurut penulis Arcopodo di gunung Semeru adalah Arca penjaga gapura, pintu untuk memasuki tempat tersuci (puncak Mahameru). Pandangan penulis ini tentunya masih harus ditelaah kembali baik secara kontekstual maupun tekstual oleh para ahli-ahli sejarah dan arkeologi agar didapatkan gambaran jelas tentang sejarah Arca kembar (Arcopodo) yang berada di gunung tertinggi di pulau Jawa, Semeru.
Gunung Semeru, Keindahan, Sejarah, Legenda dan Cerita. Sesuai dengan judul tulisan. dalam bagian ini penulis akan menceritakan pengalaman perjalanan yang mungkin bisa memberikan kamu sedikit gambaran jika kamu ingin atau berencana melakukan pendakian ke gunung Semeru. Sebelumnya perlu dicatat Semeru adalah Gunung Suci, jadi jaga setiap omongan, perbuatan, dan kelestarian (sampah) kamu saat mendaki. Alam memiliki cara sendiri untuk merespon perbuatan manusia.
Gunung Semeru, Keindahan, Sejarah, Legenda dan CeritaGunung Semeru memiliki dua jalur pendakian. Yang pertama adalah jalur Ranu Pane, jalur ini bisa diakses melalui kota Malang. Dan yang kedua adalah jalur Senduro, jalur ini bisa diakses melalui Lumajang. Dari kedua jalur ini, jalur Ranu Pane lah yang paling ramai dan umum digunakan oleh para pendaki. Di Ranu Pane pun terdapat dua jalur pendakian. Yang pertama adalah jalur konvensional dan kedua jalur ayek –ayek.
Ada beberapa pertimbangan utama mengapa kebanyakan pendaki lebih memilih jalur Ranu Pane. Diantaranya, jarak dan kemudahan transportasi ke desa terakhir (pos pendakian). Desa Ranu Pane lebih mudah diakses dibandingkan Lumajang, Senduro. jalur pendakian yang akan ditulis disini adalah jalur pendakian melalui jalur Konvensional Ranu Pane.
Perjalanan dimulai dari Kota Malang yang kemudian dilanjutkan menuju Tumpang. Tumpang berada di kabupaten Malang, jarak dari kota Malang menuju Tumpang kurang lebih 16 km. jika kamu menggunakan Kereta Api kamu bisa berhenti di stasiun akhir “Malang Kota Baru” setelah itu kamu bisa melanjutkan menggunakan angkot ADL, AL atau angkutan lainya yang menuju terminal Arjosari. Perjalanan stasiun ke terminal kurang lebih 15 menit. Dari terminal Arjosari kamu bisa menggunakan angkot berwarna putih dengan tujuan Tumpang TA. jika kamu rombongan, kamu bisa mencarter angkot langsung dari stasiun Malang untuk memudahkan perjalanan langsung menuju Tumpang karena biaya yang dikeluarkan akan lebih murah. Jika kamu menggunakan transportasi udara kamu bisa menggunakan jasa taxi Bandara Abd. Shaleh untuk menuju Tumpang.
Sesampai di terminal Tumpang (pasar), kamu bisa melanjutkan perjalanan ke Desa trakhir (pos pendakian) Ranu Pane dengan menggunakan transportasi khusus Jeep. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Ranu Pane ada baiknya jika kamu mencek ulang kelengkapan, kebutuhan dan persyaratan yang kamu bawa. Bila perlu buatlah cek list untuk mempermudah dan memastikan tidak ada kelengkapan yang tertinggal. Missal, logistik, bahan bakar, obat-obatan, perlengkapan camping dan kebutuhan pribadi lainya. Di Tumpang kamu bisa melengkapi keperluan yang akan kamu butuhkan selama melakukan pendakian.
Tumpang adalah salah satu daerah di Malang yang bersejarah. Karna disini terdapat situs peninggalan Purbakala berupa Candi. Candi – candi ini merupakan peninggalan kerajaan Singosari pada abad ke 12. diantaraya candi Kidal (pendharmaan Raja Anusapati) dan Candi Jago (pendharmaan Raja Winuwardhana). Selain itu Tumpang juga memiliki obyek wisata alam berupa air terjun. Coban Pelangi, Coban Terisula adalah contohnya. Di Tumpang kamu juga bisa menikmaati wisata petik apel di daerah Ponco Kusumo. Apel dari daerah ini terkenal kualitasnya.
 Sebagai catatan. Kamu diwajibkan membawa surat keterangan sehat dari dokter, atau puskesmas. Surat itu digunakan sebagai syarat saat melakukan ijin pendakian di pos pendakian gunung Semeru. Jika kamu lupa membawanya jangan kawatir. Kamu bisa mengurusnya di puskemas Tumpang yang terletak kurang lebih 500 M dari pasar Tumpang.
Jeep yang akan membawa kamu ke pos pendakian selalu stanby di depan Pasar Tumpang, depan Alfamart. Perjalanan Tumpang – Ranu Pane membutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan. dengan kondisi jalan menanjak dan berbelok-belok khas pegunungan. Selama perjalanan kamu akan dimanjakan oleh indahnya pemandangan alam berupa kebun apel, hutan, pertanian dan bukit teletubies gunung Bromo yang terletak di daerah Jemplang dan Bantengan, perbatasan Malang dan Lumajang.Gunung Semeru, Keindahan, Sejarah, Legenda dan CeritaSesampainya di Desa Ranu Pane kamu bisa langsung mengurus surat ijin pendakian. Ranu Pane adalah Desa yang berada di ketinggian 2.100 Mdpl. Suku asli Desa Ranu Pane adalah suku Tengger. Ranu Pane berasal dari nama danau yang berada diwilayahnya. Ranu dalam bahasa Indonesia adalah Danau. Selain Ranu Pane. Di Desa ini juga terdapat Ranu Regulo. Di desa Ranu Pane, sekitar pos pendakian terdapat warung-warung yang menjual makanan, tempat persewaan alat-alat perlengkapan camping, dan penginapan (home stay).
Surat ijin pendakian ditangan, berarti kamu sudah bisa memulai perjalanan pendakian. Perlu diketahui estimasi waktu pendakian gunung Semeru bervariasi. Ada yang dua hari satu malam, ada yang tiga hari dua malam dan yang standar pada umunya adalah empat hari tiga malam.
Sebelumnya kamu harus tentukan berapa lama kamu akan melakukan pendakian. Karena ini sangat berpengaruh terhadap barang bawaan dan beban barang yang akan dibawa selama pendakian. Tulisan perjalanan ini akan merujuk kewaktu standart pendakian umum yaitu empat hari tiga malam.
Hari pertama. Tujuan perjalanan adalah Ranu Kumbolo. Ranu Kumbolo berada diketinggian 2.400 dari permukaan laut. Estimasi waktu perjalanan empat sampai lima jam berjalan kaki. Jarak tempuh 10,5 Km. untuk sampai di Ranu Kumbolo kamu akan
Gunung Semeru, Keindahan, Sejarah, Legenda dan Ceritamelewati 4 pos. yaitu pos 1, pos2, pos 3 dan pos 4 yang berada diatas Ranu Kumbolo. Diantara pos-pos tersebut kamu juga akan menemukan dua “welcome area” berupa papan informasi. Diantaranya welcome area Landengan Dowo (antara Ranu Pane dan Pos 1) dan Watu Rejeng (antara Pos 2 dan Pos 3). Papan informasi itu berisi letak, ketinggian, dan jarak tempuh pendakian. Ranu Kombolo adalah camp hari pertama.
Gunung Semeru, Keindahan, Sejarah, Legenda dan CeritaFoto kedua diatas adalah foto tanjakan cinta yang melegenda bagi para pendaki yang mempercayainya. Konon jika kamu melewati tanjakan cinta tanpa berhenti dan tanpa menoleh kebelakang sambil memikirkan orang yang kamu cintai. Cinta kamu akan terwujud dan langgeng. Tapi perlu dicatat ini hanya sebuah mitos, percayalah Kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena hanya seijin-Nya lah sesuatu bisa terjadi dan terwujud. Biarkan mitos ini hanya menjadi cerita
Gunung Semeru, Keindahan, Sejarah, Legenda dan CeritaHari kedua. Tujuan perjalanan adalah Kalimati. Pos Kalimati berada diketinggian 2.700 Mdpl. Camp Kalimati adalah camp dihari kedua dan menjadi camp terakhir sebelum melanjutkan summit ke puncak Mahameru. Disini terdapat sumber mata air yang segar dan jernih. Namanya sumber mani. Untuk mengambil air ini kamu harus melalui celah dan jalan menurun yang curam yang berada disebelah barat shelter. Kurang lebih dibutuhkan waktu empat puluh menit perjalanan pulang pergi dari shelter Kalimati. Harap berhati-hati ajak rekan yang pernah mengambil air disumber mata air ini.
 Untuk mencapai Kalimati dari Ranu Kumbolo kamu akan melalui beberapa tempat. yaitu, Oro-oro ombo, Cemoro Kandang, dan Jambangan. Estimasi waktu perjalanan tiga jam dengan jarak tempuh 7.5 Km dari Ranu Kumbolo.
Oro-oro ombo adalah padang rumput yang memiliki luas kurang lebih 100 ha. Sedangkan Cemoro Kandang adalah hutan yang didominasi pohon cemara gunung dan tumbuhan paku-pakuan. Dan Jambangan adalah padang rumput yang ditumbuhi oleh edelweiss, cantigi dan cemara. Dari Jambangan ini puncak Mahameru akan mulai terlihat jelas disaat cuaca cerah tanpa kabut.
Gunung Semeru, Keindahan, Sejarah, Legenda dan CeritaHari ketiga, tujuan perjalanan adalah puncak Mahameru yang berada di ketinggian 3.676 Mdpl. perjalanan ke puncak dimulai saat dini hari sekitar pukul satu, selain untuk mengejar sunrise, pendakian puncak saat dini hari dilakukan untuk mengejar waktu. Perlu diketahui saat pukul sembilan pagi kamu sudah harus turun dari puncak Mahameru karena dikhawatirkan akan adanya perubahan arah angin yang akan membawa gas beracun dari kawah aktiv yang mengarah kearah jalur pendakian. sudah seharusnya penulis dan kamu mengikuti pakem ini. karena cuaca, perubahan alam terkadang tidak dapat diprediksi.
Perjalanan dihari ketiga ini adalah perjalanan terberat jika dibandingkan dengan hari pertama dan kedua. karena medan yang akan dilalui cukup sulit. Selain menanjak medan yang akan ditempuh berupa pasir dengan batuan-batuan yang mudah longsor dengan tingkat kemiringan jalur yang cukup tajam. Dibutuhkan semangat dan fisik (kesehatan) yang prima agar bisa sampai di puncak Mahameru, tanah tertinggi di pulau Jawa.
Gunung Semeru, Keindahan, Sejarah, Legenda dan CeritaJarak Kalimati ke puncak Mahameru 2.7 Km, waktu tempuh bervariasi antara empat hingga tujuh jam perjalanan berjalan kaki. Waktu tempuh ini sangat tergantung terhadap kondisi dan kemampuan fisik seseorang. Ada yang lebih lambat, ada juga yang mungkin lebih cepat karna fisik seseorang tidak sama.
Setelah berjalan kaki sejauh 1.2 Km, diketinggian 2.900 Mdpl kamu akan sampai di Pos Arcopodo, Pos terakhir sebelum puncak. Disini tidak terdapat bagunan seperti halnya di Pos 1, 2,3 dan 4. di Pos Arcopodo kamu hanya menemukan tulisan informasi saja. Di Pos ini terdapat tanah datar yang tidak begitu luas dan biasanya beberapa pendaki menjadikanya camp alternative terakhir sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak
Gunung Semeru, Keindahan, Sejarah, Legenda dan CeritaPendaki yang menjadikan Pos Arcopodo sebagai camp terakhir tentunya memiliki beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah waktu, dan jarak tempuh. Untuk sampai puncak Mahameru, jarak dari Pos Arcopodo ke puncak hanya 1.5 Km, lebih dekat jika dibandingkan dari camp Kalimati ke puncak yang berjarak 2.7 Km. Jadi jika kamu memilih camp Arcopodo, kamu tidak perlu berangkat dini hari.
Namun ada beberapa pertimbangan yang menjadi catatan jika kamu menjadikan Pos Arcopodo sebagai camp terakhir sebelum puncak, yaitu air. Karena di Pos Arcopodo ini tidak terdapat sumber mata air. Ini berarti mengharuskan kamu membawa persediaan air lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak, dan pastinya akan menambah beban barang bawaan yang cukup menguras tenaga.arcopodo 3
Dalam tulisan ini, penulis merekomendasikan Camp di Pos Kalimati sebagai pilihan sebelum melanjutkan pendakian ke puncak Mahameru.
Dari pos Arcopodo kamu bisa lanjutkan pendakian kearah puncak (utara) mengikuti jalur yang sudah ada. Setelah berjalan beberapa ratus meter kamu akan sampai di Kelik. Kelik adalah lokasi yang menjadi batas akhir vegetasi antara hutan dan pasir puncak Semeru.
Dari Kelik inilah yang dimaksut oleh penulis medan terberat yang akan dilalui selama pendakian ke puncak Mahameru. Selain kemiringan medan, suhu yang dingin akan menjadi cobaan selama perjalanan. cobaan ini akan menjadi hambatan jika kamu tidak mempersiapkanya. Sebaiknya gunakanlah sepatu saat melakukan pendakian. Sepatu selain melindungi kaki juga akan memberikan kenyamanan. Kaki adalah organ yang vital saat kamu melakukan pendakian, karena dengan kaki kamu berjalan. Bayangkan jika kaki kamu mengalami cedera saat diperjalanan. Jadi sudah sepantasnya dan seharusnya kamu melindungi kaki dengan sepatu untuk meminimalisir kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi. Gunakanlah gaither sebagai pelengkap agar pasir tidak masuk kedalam sepatu saat perjalanan ke puncak demi kenyamanan. Kamu juga bisa menggunakan Trecking pole atau tongkat. sebagai alat bantu saat berjalan menapaki medan berpasir gunung Semeru yang mudah bergerak saat di injak.
Setelah dua jam perjalanan dari batas vegetasi Kelik. Kamu akan sampai di puncak Mahameru. Puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa.
Gunung Semeru, Keindahan, Sejarah, Legenda dan CeritaSinar Matahari sedikit demi sedikit muncul memberikan kehangatan dipagi hari. Lautan awan membentang luas seolah tanpa batas, desiran angin dan gemuruh letusan gunung berpadu menjadi musik alami yang begitu indah. Rasa haru dan puas melebur menjadi satu ikatan emotional yang menghasilkan air mata kebahagian.
Inilah Alam, Alam ciptaan-Nya yang merupakan bukti kekuasaan-Nya. Inilah Alam, Alam yang mengajarkan kita arti tentang perjuangan, Alam yang memberikan pelajaran tentang makna sebuah pengorbanan dan kesabaran, dan Alam juga lah yang merontokan semua kesombongan dalam jiwa. begitulah seharusnya, dan begitu semestinyaGunung Semeru, Keindahan, Sejarah, Legenda dan CeritaSetelah cukup menikmati kopi hangat, makanan ringan dan mengabadikan moment panorama keindahan alam gunung Semeru, tujuan perjalanan berikutnya adalah kembali ke camp Kalimati.
Ikutilah trek, jalur ditengah yang sudah ada. Jangan terlalu ke barat atau ke timur. Tanah yang kamu injak mudah bergerak dan amblas, jika tidak hati-hati ini bisa membahayakan. Jangan takabur, sombong atau menganggap remeh trek perjalanan pulang hanya sebab merasa sudah hafal jalur atau karna sering sowan ke puncak. Karena biasanya kasus kejadian orang hilang di Gunung Semeru terjadi saat perjalanan turun, bukan saat perjalanan ke puncak.
Gunung Semeru, Keindahan, Sejarah, Legenda dan CeritaKasus kejadian orang hilang terakhir di gunung Semeru terjadi kira-kira satu tahun yang lalu, tepatnya tanggal 30, Oktober 2012 setelah Upacara Sumpah Pemuda. Kebetulan penulis saat itu berada dilokasi kejadian dan sempat mengikuti Upacara bersama di Ranu Kumbolo, penulis tidak saling mengenal. penulis baru mengenal nama begitu mendengar informasi adanya laporan orang hilang yang masuk ke petugas TNBTS di Ranu Pane. Firas, alhamdulilah setelah empat hari dinyatakan hilang korban berhasil ditemukan dalam keadaan selamat oleh Tim Sar Gabungan. semoga kejadian ini menjadi pelajaran untuk kita semua, khususnya penulis pribadi. Dan semoga kasus Firas tahun lalu menjadi kasus terakhir yang terjadi di gunung Semeru.
Perjalanan turun dari puncak ke Kalimati biasanya akan lebih cepat. Karena, medan yang dilalui tidak seberat saat melakukan pendakian ke puncak. 90 % medan yang dilalui menurun. Namun begitu tetaplah berhati-hati saat diperjalanan. Beristirahatlah jika mengalami kelelahan. Sebab kelelahan dapat mengurangi konsentrasi. estimasi waktu perjalanan dari puncak ke camp Kalimati kurang lebih dua hingga tiga setengah jam perjalanan. sesampainya di camp Kalimati kamu bisa sarapan dan beristirahat yang cukup untuk memulihkan setamina.
Dihari ketiga ini kamu mepunyai dua pilihan. Pertama melanjutkan istirahat hingga esok hari dengan konsekuensi, besok dihari keempat perjalanan kembali ke pos pendakian Ranu Pane langsung ditrek dalam satu hari selama tujuh sampai delapan jam perjalanan. atau pilihan kedua setelah sarapan dan istirahat cukup, kamu langsung packing dan melanjutkan perjalanan ke camp Ranu Kumbolo untuk beristirahat dan dihari keempat perjalanan baru dilanjutkan kembali menuju pos pendakian Ranu Pane. Kamu bisa mendiskusikan pilihan ini bersama rekan-rekan perjalanan kamu, bagimana situasi dan kondisi baiknya.
Hari keemapat, tujuan perjalanan adalah kembali ke pos pendakian Ranu Pane. Nikmatilah perjalanan pulang, tidak usah terburu-buru karena biasanya beberapa pendaki berlari saat perjalanan pulang (turun). Berlalari saat medan menurun meningkatkan resiko cedera kaki. missal, terkilir atau keseleo. Sebelum turun kembali ke pos pendakian kamu diwajibkan membawa semua bekas sampah kamu selama pendakian. Sampah tidak boleh ditinggal. Ini adalah peraturan yang harus kamu patuhi jika kamu tidak ingin mendapatkan sangsi dari petugas. Aturan sampah ini berlaku bagi siapa saja yang memasuki taman nasional atau tempat konservasi lainya.
Menjaga kelestarian alam bukanlah tanggung jawab petugas (pengelola) atau kelompok pecinta alam saja. Menjaga kelestarian alam menjadi tanggung jawab bersama (pengunjung). Salinglah mengingatkan agar alam tetap indah dan terjaga. Dengan menjaga alam berarti kamu menjaga keseimbangan. Jika alam terjaga keseimbanganya, bencana alam dan kerusakan bisa dihindari. Penulis teringat dengan kata bijak berbahasa Ingris “TAKE NOTHING BUT PICTURES, LEAVE NOTHING BUT FOOTPRINT, KILL NOTHING BUT TIME” semoga kata bijak ini bisa selalu penulis dan kamu ingat.
Sesampai di pos pendakian Ranu Pane kamu diwajibkan melapor kepada petugas yang berjaga. Setelah itu kamu bisa beristirahat, berjalan – jalan disekitat Ranu Pane atau Ranu Regulo, atau langsung melanjutkan perjalanan ke kota asal. Selamat berkumpul kembali bersama keluarga, saudara dan rekan, Semoga selamat sampai tujuan.

Adat Istiadat dan Suku Baduy

Adat Istiadat dan Suku Baduy

Adat Istiadat dan sejarah Suku Baduy.
 Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).
Wilayah 

Wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). suhu rata-rata 20°C.

Bahasa

Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes ‘dalam’ tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.

Asal Usul

Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.

Pendapat mengenai asal-usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai ‘Tatar Sunda’ yang cukup minim keberadaannya. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umum menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Baduy yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Baduy sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.

Van Tricht, seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan pada tahun 1928, menyangkal teori tersebut. Menurut dia, orang Baduy adalah penduduk asli daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat terhadap pengaruh luar (Garna, 1993b: 146). Orang Baduy sendiri pun menolak jika dikatakan bahwa mereka berasal dari orang-oraang pelarian dari Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda. Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Baduy merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala’ (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama Hindu atau Budha. Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan Jati Sunda atau ‘Sunda Asli’ atau Sunda Wiwitan (wiwitann=asli, asal, pokok, jati). Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan. Raja yang menjadikan wilayah Baduy sebagai mandala adalah Rakeyan Darmasiksa.

Ada versi lain dari sejarah suku baduy, dimulai ketika Kian Santang putra prabu siliwangi pulang dari arabia setelah berislam di tangan sayyidina Ali. Sang putra ingin mengislamkan sang prabu beserta para pengikutnya. Di akhir cerita, dengan ‘wangsit siliwangi’ yang diterima sang prabu, mereka berkeberatan masuk islam, dan menyebar ke penjuru sunda untuk tetap dalam keyakinannya. Dan Prabu Siliwangi dikejar hingga ke daerah lebak (baduy sekarang), dan bersembunyi hingga ditinggalkan. Lalu sang prabu di daerah baduy tersebut berganti nama dengan gelar baru Prabu Kencana Wungu, yang mungkin gelar tersebut sudah berganti lagi. Dan di baduy dalamlah prabu siliwangi bertahta dengan 40 pengikut setianya, hingga nanti akan terjadi perang saudara antara mereka dengan kita yang diwakili oleh ki saih seorang yang berupa manusia tetapi sekujur tubuh dan wajahnya tertutupi oleh bulu-bulu laiknya monyet.dan ki saih ini kehadirannya di kita adalah atas permintaan para wali kepada Allah agar memenangkan kebenaran.

Kepercayaan

Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Budha, Hindu, dan Islam. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari ‘pikukuh’ (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep “tanpa perubahan apapun”, atau perubahan sesedikit mungkin:

Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.
(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung)

Tabu tersebut dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harafiah. Di bidang pertanian, bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur lahan bagi ladang, sehingga cara berladangnya sangat sederhana, tidak mengolah lahan dengan bajak, tidak membuat terasering, hanya menanam dengan tugal, yaitu sepotong bambu yang diruncingkan. Pada pembangunan rumah juga kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya, sehingga tiang penyangga rumah Kanekes seringkali tidak sama panjang. Perkataan dan tindakan mereka pun jujur, polos, tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar.

Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. Hanya puun yang merupakan ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen (Permana, 2003a).

Bagi sebagian kalangan, berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, kepercayaan yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam.

Kelompok Masyarakat Suku Baduy

Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping, dan dangka (Permana, 2001). Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Baduy Dalam, yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik). Ciri khas Orang Baduy Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih. Kelompok masyarakat panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Baduy Luar, yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Masyarakat Baduy Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam. Apabila Baduy Dalam dan Baduy Luar tinggal di wilayah Kanekes, maka “Baduy Dangka” tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar (Permana, 2001).

Struktur Pemerintahan

Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi perbenturan. Secara nasional penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu “puun”. Struktur pemerintahan secara adat Kanekes adalah sebagaimana tertera pada

Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah “puun” yang ada di tiga kampung tangtu. Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan puun tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut.

Pelaksana sehari-hari pemerintahan adat kapuunan (kepuunan) dilaksanakan oleh jaro, yang dibagi ke dalam empat jabatan, yaitu jaro tangtu, jaro dangka, jaro tanggungan, dan jaro pamarentah. Jaro tangtu bertanggung jawab pada pelaksanaan hukum adat pada warga tangtu dan berbagai macam urusan lainnya. Jaro dangka bertugas menjaga, mengurus, dan memelihara tanah titipan leluhur yang ada di dalam dan di luar Kanekes. Jaro dangka berjumlah 9 orang, yang apabila ditambah dengan 3 orang jaro tangtu disebut sebagai jaro duabelas. Pimpinan dari jaro duabelas ini disebut sebagai jaro tanggungan. Adapun jaro pamarentah secara adat bertugas sebagai penghubung antara masyarakat adat Kanekes dengan pemerintah nasional, yang dalam tugasnya dibantu oleh pangiwa, carik, dan kokolot lembur atau tetua kampung (Makmur, 2001).

Mata Pencaharian

Sebagaimana yang telah terjadi selama ratusan tahun, maka mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan

Interaksi Dengan Masyarakat Luar Baduy

Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba ke Kesultanan Banten (Garna, 1993). Sampai sekarang, upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat), melalui bupati Kabupaten Lebak. Di bidang pertanian, penduduk Baduy Luar berinteraksi erat dengan masyarakat luar, misalnya dalam sewa menyewa tanah, dan tenaga buruh.

Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara barter, sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa. Orang Kanekes menjual hasil buah-buahan, madu, dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.

Pada saat ini orang luar yang mengunjungi wilayah Kanekes semakin meningkat sampai dengan ratusan orang per kali kunjungan, biasanya merupakan remaja dari sekolah, mahasiswa, dan juga para pengunjung dewasa lainnya. Mereka menerima para pengunjung tersebut, bahkan untuk menginap satu malam, dengan ketentuan bahwa pengunjung menuruti adat-istiadat yang berlaku di sana. Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh berfoto di wilayah Baduy Dalam, tidak menggunakan sabun atau odol di sungai. Namun demikian, wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk sampai sekarang selalu ditolak masuk.

Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, orang Baduy juga senang berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki. Pada umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Baduy sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Minggu, 29 Juni 2014

Asal Mula Suku Baduy di Kabupaten Lebak



Asal Mula suku Baduy - Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).

Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek a–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes ‘dalam’ tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.

Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.

Asal Mula Suku Baduy di Kabupaten Lebak

Pendapat mengenai asal-usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai ‘Tatar Sunda’ yang cukup minim keberadaannya. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umum menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Baduy yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Baduy sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.

Ada versi lain dari sejarah suku baduy, dimulai ketika Kian Santang putra prabu siliwangi pulang dari arabia setelah berislam di tangan sayyidina Ali. Sang putra ingin mengislamkan sang prabu beserta para pengikutnya. Di akhir cerita, dengan ‘wangsit siliwangi’ yang diterima sang prabu, mereka berkeberatan masuk islam, dan menyebar ke penjuru sunda untuk tetap dalam keyakinannya. Dan Prabu Siliwangi dikejar hingga ke daerah lebak (baduy sekarang), dan bersembunyi hingga ditinggalkan. Lalu sang prabu di daerah baduy tersebut berganti nama dengan gelar baru Prabu Kencana Wungu, yang mungkin gelar tersebut sudah berganti lagi. Dan di baduy dalamlah prabu siliwangi bertahta dengan 40 pengikut setianya, hingga nanti akan terjadi perang saudara antara mereka dengan kita yang diwakili oleh ki saih seorang yang berupa manusia tetapi sekujur tubuh dan wajahnya tertutupi oleh bulu-bulu laiknya monyet.dan ki saih ini kehadirannya di kita adalah atas permintaan para wali kepada Allah agar memenangkan kebenaran.

Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Budha, Hindu, dan Islam. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari ‘pikukuh’ (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep “tanpa perubahan apapun”, atau perubahan sesedikit mungkin :

Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.

(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung)

Asal Mula Suku Baduy di Kabupaten Lebak

Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. Hanya puun yang merupakan ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan.

Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen (Permana, 2003a).Bagi sebagian kalangan, berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, kepercayaan yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam.

Asal Mula Suku Baduy di Kabupaten Lebak


Baduy Luar

Baduy Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Baduy Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkanya warga Baduy Dalam ke Baduy Luar. Pada dasarnya, peraturan yang ada di baduy luar dan baduy dalam itu hampir sama, tetapi baduy luar lebih mengenal teknologi dibanding baduy dalam.

Penyebab

Mereka telah melanggar adat masyarakat Baduy Dalam.

Berkeinginan untuk keluar dari Baduy Dalam

Menikah dengan anggota Baduy Luar

Proses Pembangunan Rumah penduduk Baduy Luar telah menggunakan alat-alat bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll, yang sebelumnya dilarang oleh adat Baduy Dalam.

Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), yang menandakan bahwa mereka tidak suci. Kadang menggunakan pakaian modern seperti kaos oblong dan celana jeans.

Baduy Dalam
Baduy Dalam adalah bagian dari keseluruhan Suku Baduy. Tidak seperti Baduy Luar, warga Baduy Dalam masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka.

Sebagian peraturan yang dianut oleh suku Baduy Dalam antara lain:

Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi

Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki

Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Puun)

Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi)Menggunakan Kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern.

Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba ke Kesultanan Banten (Garna, 1993). Sampai sekarang, upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat)

Pada saat ini orang luar yang mengunjungi wilayah Kanekes semakin meningkat sampai dengan ratusan orang per kali kunjungan, biasanya merupakan remaja dari sekolah, mahasiswa, dan juga para pengunjung dewasa lainnya. Mereka menerima para pengunjung tersebut, bahkan untuk menginap satu malam, dengan ketentuan bahwa pengunjung menuruti adat-istiadat yang berlaku di sana. Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh berfoto di wilayah Baduy Dalam, tidak menggunakan sabun atau odol di sungai. Namun demikian, wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk sampai sekarang selalu ditolak masuk.

Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, orang Baduy juga senang berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki. Pada umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Baduy sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.