Tampilkan postingan dengan label kisah pendaki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah pendaki. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Agustus 2014

7 Hal yang Menghambat Kamu Untuk Naik Gunung


Naik gunung itu nggak semudah ngucapin ‘good naik’ ke gebetan sebelum tidur. Ada banyak rintangan bin tantangan yang harus kita lalui. Jangankan pas pendakian, sebelum mulai berangkat aja banyak banget hal yang mungkin menghambat kita untuk naik gunung. Temen-teman yang Agung alias Anak Gunung pasti pernah satu dua kali mengalami hambatan-hambatan berikut ini.

Kepanikan Orang Tua
Coba bayangkan situasi ini: kamu udah super siap mendaki gunung, udah beli tas karir baru, udah beli peralatan-peralatan, udah nyiapin waktu batalin semua rencana, dan udah nabung. Tapi, nggak lama sebelum waktu berangkat, orang tua kamu nonton berita tentang pendaki yang hilang di gunung. Sejurus kemudian, mama-papa kamu melarang kamu naik gunung atas nama keselamatanmu. Yah, namanya juga orang tua, nggak mau anaknya kenapa-kenapa.

Tapi di luar itu, ada beberapa alasan lagi kenapa orang tua melarang kamu naik gunung. Misalnya, nilai kamu di kampus atau sekolah yang anjlok. Makanya sebelum naik gunung pastiin dulu nilai kamu aman dan bikin ortu tentram.

Jadwal Kuliah Nggak Bersahabat
Adalah menyebalkan ketika tiba-tiba dosen mengumumkan waktu ujian jatuh di jadwal pendakian kamu dan teman-teman. Sialnya adalah kalau kamu nggak ikut ujian itu kamu mesti ngulang mata kuliah semester depan. Dan sialnya lagi, cuma kamu seorang yang harus ujian, sementara temen-temen kamu nyantai-nyantai aja. Itu artinya, kamu terpaksa ditinggal rombongan. Selamat!

Dompet Kering
Se-backpacking-nya kita, tetep aja butuh duit untuk melakukan perjalanan. Untuk ongkos naik kereta, beli makanan untuk bekel, beli atau sewa peralatan, dan lain-lain. Keadaan uang paceklik tentu nggak memugkingkan kamu untuk ikutan naik gunung.

Cuaca Labil
Naik gunung di kala cuaca sedang buruk sama dengan Mbak Haya alias bahaya. Nah, sialnya, cuaca di negara kita ini emang sering banget labil. Seminggu cerah, seminggu badai. Jadi pandai-pandailah kamu meramal cuaca. Termasuk cuacana hati sang gebetan.

Pacar Rempong
Kalau kamu anak gunung, pandai-pandailah mencari pacar. Jangan pacaran sama orang yang cemburuan, panikan, dan kelewat bersih. Loh loh loh, kok bersih, maksudnya apah? Ya itu. Biasanya kan anak gunung itu selalu menganggap kehidupan sehari-hari sama dengan hidup di gunung. Nggak mandi nggak apa-apa.

Selain itu, kalau pacar kita rempong bisa jadi dia nggak ngebolehin kita karena alasan-alasan yang nyebelin. Contohnya: cemburu sama temen seperjalanan, takut kamu kenapa-kenapa, dan manja nggak mau ditinggal. Ribet.

Nggak Ada Temen
Percuma kalau kamu punya uang, punya waktu tapi nggak punya temen untuk naik gunung. Nggak mungkin kan kamu naik gunung sendiri? Kecuali kamu emang rumahnya di gunung. Mau nggak mau tiap pulang, meski sendiri, ya naik gunung.

Ada Temen Tapi Nggak Diajak
Makanya, jadilah teman yang asik, biar kalo ada acara-acara seru tetep diajak.

Jadi, begitulah yang biasanya bikin acara naik gunung kamu nggak jadi. Kalau kamu, apa aja yang bikin kamu nggak jadi naik gunung?

Selasa, 22 Juli 2014

Mendaki Gunung = MENGHARGAI ARTI KEHIDUPAN


 Mendaki Gunung = MENGHARGAI ARTI KEHIDUPAN


Harusnya, hakekatnya seperti ini..

Jujur sungguh sedikit sekali orang yang bisa atau mau memahami keadaan seseorang atau keadaan sekitarnya, jika ia tidak terjun langsung atau mengalami sendiri apa yang dirasakan seseorang dalam kehidupannya.

Pendaki gunung atau yang banyak orang sering mengindentifikasikan sebagai “ Pencinta Alam ??“ atau biasa disebut PA, itulah yang pertama kali orang katakan saat melihat sekelompok orang – orang ini. Dengan ransel serat beban, topi rimba, baju lapangan, dan sepatu gunung yang dekil bercampur lumpur, membuat mereka kelihatan gagah. Hanya sebagian saja yang menatap mereka dengan mata berbinar menyiratkan kekaguman, sementara mayoritas lainnya lebih banyak menyumbangkan cibiran, bingung, malah bukan mustahil kata sinis yang keluar dari mulut mereka, sambil berkata dalam hatinya, “Ngapain cape – cape naik Gunung. Pas Nyampe ke puncak, turun lagi…mana di sana dingin lagi, belum lagi kalau kehujanan, terus keram kaki atau keram perut….haduehhh , cape dehhh !!!!!!!”

Tapi tengoklah ketika mereka memberanikan diri bersatu dengan alam dan dididik oleh alam. Mandiri, rasa percaya diri yang penuh, kuat dan mantap mengalir dalam jiwa mereka. Adrenaline yang normal seketika menjadi

naik hanya untuk menjawab golongan mayoritas yang tak henti – hentinya mencibir dan memandang rendah mereka. Dan begitu segalanya terjadi, tak ada lagi yang bisa berkata bahwa mereka adalah bulshit people !!!!!

Berempati pada alam semesta sejatinya akan membuat siapapun akan lebih peduli /bersimpati dan toleran kepada saudaranya, tetangganya, bahkan musuhnya sendiri. Menghargai dan meyakini kebesaran Tuhan dengan segala keindahan fenomena dan panorama alam semesta cipta karyaNYA, menyayangi sesama dan percaya pada diri sendiri, itulah kunci yang dimiliki oleh orang – orang yang kerap disebut petualang/penjelajah alam bebas ini. Mendaki gunung bukan berarti menaklukan alam, tapi lebih utama adalah menaklukan diri sendiri dari keegoisan pribadi. Selain itu dengan mendaki gunung atau memanjat tebing adalah bentuk ekspresi atau sebuah seni yang memadukan dan mengendalikan antara rasa takut dengan ketrampilan teknik pendakian/ pemanjatan. Mendaki gunung dan memanjat tebing adalah wujud dari sebuah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesama dan ketergantungan dengan alam bebas itu sendiri.

Dan menjadi salah satu dari mereka bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi pandangan masyarakat yang berpikiran negative terhadap dampak dari kegiatan ini. Apalagi mereka sudah menyinggung soal kematian yang memang tampaknya lebih dekat pada orang - orang yang terjun di alam bebas ini. “Mati muda yang sia – sia.” Begitu komentar mereka saat mendengar atau membaca anak muda yang tewas di gunung. Padahal soal hidup dan mati, di gunung hanyalah satu dari sekian alternative dari suratan takdir. Tidak mutlak atau mesti di gunung pun, kalau maut mau datang dia akan dating kepada siapa pun…!!! . Bisa tewas karena kecelakaan mobil di jalan tol, meninggal tertabrak kereta api, karena sakit mendadak (serangan jantung) atau meninggal karena tersambar petir, kesetrum listrik dll..Kalau selamanya kita harus takut pada kematian, mungkin kita tidak akan pernah dilahirkan oleh Maha Pencipta.

Di gunung, di ketinggian kaki berpijak, di sanalah tempat yang paling damai dan abadi. Dekat dengan Tuhan dan keyakinan diri yang kuat. Saat kaki menginjak ketinggian, tanpa sadar kita hanya bisa berucap bahwa alam memang telah menjawab kebesaran Tuhan. Di sanalah pembuktian diri dari suatu pribadi yang egois dan manja, menjadi seorang yang mandiri dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Rasa takut, cemas, gusar, gundah, dan homesick memang ada, tapi itu dihadapkan pada kokohnya sebuah gunung yang tak mengenal apa itu rasa yang menghinggapi seorang anak manusia. Gunung itu memang curam, tapi ia lembut. Gunung itu memang terjal, tapi ia ramah dengan membiarkan tubuhnya diinjak – injak. Ada banyak luka di tangan, ada kelelahan di kaki, ada rasa haus yang menggayut di kerongkongan, ada tanjakan yang seperti tak ada habis – habisnya. Namun semuanya itu menjadi tak sepadan dan tak ada artinya sama sekali saat kaki menginjak ketinggian. Puncak gunung menjadi puncak dari segala puncak. Puncak rasa cemas, puncak kelelahan, dan puncak rasa haus, tapi kemudian semua rasa itu lenyap bersama tirisnya angin pegunungan.

Lukisan kehidupan pagi Sang Maha Pencipta di puncak gunung tidak bisa diucapkan oleh kata – kata. Semuanya cuma tertoreh dalam jiwa, dalam hati. Usai menikmati sebuah perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri sekaligus menumbuhkan percaya diri, rasanya sedikit mengangkat dagu masih sah – sah saja. Hanya jangan terus – terusan mengangkat dagu, karena walau bagaimanapun, gunung itu masih tetap kokoh di tempatnya. Tetap menjadi paku bumi, bersahaja, dan gagah. Sementara manusia akan kembali ke urat akar di mana dia hidup.

Ya, menghargai hidup dan arti kehidupan adalah salah satu hasil yang diperoleh dalam mendaki gunung. Betapa hidup itu mahal. Betapa hidup itu ternyata terdiri dari berbagai pilihan, di mana kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. Satu kali mendaki, satu kali pula kita menghargai hidup. Dua kali mendaki, dua kali kita mampu menghargai hidup. Tiga kali, empat kali, ratusan bahkan ribuan kali kita mendaki, maka sejumlah itu pula kita menghargai hidup.

Hanya seorang yang bergelut dengan alamlah yang mengerti dan paham, bagaimana rasanya mengendalikan diri dalam ketertekanan mental dan fisik, juga bagaimana alam berubah menjadi seorang bunda yang tidak henti – hentinya memberikan rasa kasih sayangnya.

Kalau golongan mayoritas masih terus saja berpendapat minor soal kegiatan mereka, maka biarkan sajalah. Karena siapapun orangnya yang berpendapat bahwa kegiatan ini hanya mengantarkan nyawa saja, bahwa kegiatan ini hanya sia – sia belaka, tidak ada yang menaifkan hal ini. Mereka cuma tak paham bahwa ada satu cara di mana mereka tidak bisa merasakan seperti yang dirasakan oleh para petualang ini, yaitu kemenangan saat kaki tiba pada ketinggian.

Senin, 21 Juli 2014

Mengenang Gie Lewat Semeru

13455751441574379069
Gie Di Pangrango
“Saya melihat Gie mengerang-erang waktu itu,” begitu tutur Herman O. Lantang, “Gak lama setelah itu dia meninggal. Sebelumnya saya sempat memberikan napas buatan. Pengetahuan saya masih terbatas soal pertolongan keracunanan gas. Tapi, yang saya tahu gas beracun itu lebih rendah. Dan praktis waktu menuju puncak, Gie sering terlihat jongkok dan duduk. Jadi dugaan saya Gie terlalu banyak menghirup gas beracun. Setelah tahu Gie meninggal, saya langsung turun dan meninggalkan jasadnya di atas. Menjelang Cemoro Tunggal, saya lihat Idhan juga mengalami kondisi yang sama seperti Gie.”
Mengenal Gie Lewat Herman Lantang
Intelectual abortus. Begitu ia dikenal. Seorang intelektual yang mati muda. Meninggal di usia emasnya, yakni 27 tahun Soe Hok Gie meninggalkan banyak cerita. Ia yang seorang mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI, ia yang seorang pendiri Mapala UI, ia seorang penulis, seorang mahasiswa yang kritis dan juga seorang pendaki gunung.
Rasa respektasi terhadapnya karena dua hal, yakni Gie seorang mahasiswa yang kritis dan Gie yang juga seorang pendaki—yang meninggal di Semeru. Gie dan Semeru. Dua kata yang tak bisa terlepas terikat satu sama lain. Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu lah tempat berpijak Gie untuk terakhir kali.
“Kalo ditanya siapa orang yang pertama kali mencium Gie ya saya ini,”
Begitu kelakarnya mengenang detik-detik terakhir Gie. Menurut pengakuannya, dia sempat memberikan napas buatan saat gie mengerang menjelang kematiannya.
1345575343252561583
Sesaat setelah Gie meninggal Arcopodo 17 Des 69 
1345575483237561077
Sesaat sebelum Idhan Meninggal-Herman Lantang dan Idhan Lubis 
“Melihat dia (Gie) seperti itu, saya reflek memangkunya dan memberikan napas buatan. Saat itu saya tidak peduli soal gas beracun. Setelahnya, karena saya pun sudah merasa pusing dan hampir lewat (meninggal), saya habiskan satu veldples (botol minum tentara) air, padahal saya orang yang paling disiplin soal air.”Lanjutnya.
Tuturan Herman O. Lantang akan kematian sahabatnya dengan Nomor Registrasi ‘M.007.UI’ itu di Semeru begitu gamblang. Bang Herman—sapaan akrabnya, bisa dikatakan sebagai living legend-nya pendaki gunung Indonesia. Pendiri Mapala UI sekaligus kawan pendakian Gie yang menemaninya hingga detik hidup terakhir, begitu ia dikenal. Karena itu pula, saya belajar darinya.
Sekira tahun 2006 saya dan teman-teman dari komunitas pencinta alam FISIP Unpad bertemu dengan Bang Herman di kediamannya. Rumah tua khas seorang antropolog dengan komposisi barang-barang antik dan ornamen budaya menghiasi seluruh isi rumah kala itu. Beberapa foto pendakian gunung terlihat menempel pada dindingnya. Rumah yang begitu sederhana tapi bernilai sejarah tinggi.
1345575622988983058
Rumah Herman Lantang 
Pertanyaan seputar pendakian Semeru tak pernah habis dilontarkan kepadanya. Rasa penasaran publik terhadap kematian Gie dan pendakian Semeru 40 tahun silam nampaknya tak ada habis-habisnya. Rasa itu pula yang menggugah hasrat saya untuk bertemu dengan Bang Herman. Dan, benar saja. Bang Herman nampak masih rapi menyimpan memori kelam pendakian Semeru yang sekaligus merenggut nyawa kedua temannya itu. Cerita pun berlanjut hingga pagi hari dengan obrolan yang masih sama, yakni soal Gie, Mapala, dan Semeru.
Saya mendapat banyak ilmu soal pendakian darinya. Tapi, yang membuat saya benar-benar penasaran adalah Semeru. Gunung tertinggi di Jawa itu cukup menyita perhatian, termasuk saya. Setelah mendengar cerita Bang Herman hasrat mendaki Mahameru kian tak terbendung. Dan, akhirnya setelah 2 tahun, tepatnya Agustus 2008, saya dapat mencapai puncak sekaligus napak tilas jejak Gie.
13455757171041079488
Herman Lantang dan Keluarga-Arcopodo Des 89
Puncak Para Dewa
Tanggal 15 Agustus 2008 adalah waktu dimana saya mencoba untuk memperingati hari kemerdekaan RI sekaligus napak tilas jejak Gie di Mahameru—nama lain Semeru. Kami memilih tanggal 15 agar tepat tanggal 17 nya dapat upacara bendera di puncak. Dan tepat, kami akhirnya dapat menyanyikan lagu Indonesia Raya di puncak dewa-dewa itu.
Perjalanan panjang Bandung-Malang ditempuh kurang lebih 24 jam penuh membuat tulang serasa remuk. Untungnya ada sajian nasi jagung khas Pasar Tumpang yang cukup mengobati rasa remuk redam tadi. Persiapan logistik pendakian kami siapkan sebelum beranjak ke Ranu Pani, basecamp Semeru. Perjalanan Tumpang-Ranu Pani memakan waktu sekira 3 jam dengan Jeep.
Sampai di posko Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kami melakukan registrasi sebelum memulai pendakian ke atas. Danau Ranu Regulo menyambut kami dengan ramah sesaat disergap oleh hawa dingin Ranu Pani. Kabut menyelimuti daerah itu sehingga cukup membatasi jarak pandang.
Registrasi selesai, dan tepat pukul 5 sore kami mulai pendakian. Dekapan udara dingin begitu terasa sesaat kami memulai langkah. Menit-menit awal mendaki sekira 3 KM, kami melewati jalanan ber-paving block yang tertata rapi. Semeru tidak lagi sealami dahulu. Saat dimana Gie dan rombongannya memulai pendakian tahun 1969 silam. Saya yakin jika pada saat itu jalur yang dilewatinya masih asri dan alami.
Perjalanan pun sampai pada kawasan yang disebut dengan Watu Rejeng, beberapa meter menjelang Pos 2. Kawasan berbatu dan sedikit terjal membuat kami pun harus berhati-hati melewatinya. Sesaat kemudian sampailah Pos 2 yang kami tunggu-tunggu. Kami pun beristirahat sejenak. Tak lama, kami pun melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya. Pos 3 tak lama kami lewati dengan tipikal jalur yang sama berbatunya. Hingga berakhir sampai kawasan Ranu Kumbolo yang ternyata telah dipenuhi dengan lampu-lampu yang terlihat kecil. Lampu-lampu dari para pendaki yang membuat tenda di sekitar danau.
13455759631750522016
Ranu Kumbolo
Kami bermalam di Ranu Kumbolo. Sebuah danau yang sangat menghipnotis siapa saja yang melihatnya. Cahaya bulan yang dihimpit oleh dua bukit begitu terang menyinari sekitar danau. Riak air yang tenang  memantulkan dengan sempurna sinar rembulan. Sungguh eksotis. Sampai-sampai tak peduli jika termometer menunjuk angka minus dibawah nol derajat. Tak heran jika para pendaki menyebut Semeru sebagai surganya pendaki.
Sekira pukul 10 pagi kami pun melanjutkan perjalanan. Beberapa meter setelah Ranu Kumbolo kami langsung disambut oleh tanjakan panjang nan tinggi. Ya, itulah Tanjakan Cinta. Konon, bagi siapa saja yang berhasil melewatinya tanpa berhenti sampai puncak tanjakan, segala permintaannya akan dikabulkan. Hmm..sebuah mitos yang bertahan hingga kini. Sesaat kemudian, pandangan kami begitu dimabukkan dengan medan di depan yang begitu luas dan dikelilingi oleh bukit-bukit dan hutan. Daerah Oro-Oro Ombo namanya. Sebuah daerah yang namanya diambil dari bahasa Jawa yang berarti daerah atau tanah yang luas.
13455760221639041021
Oro-oro Ombo 
Setelah menempuh perjalanan sekira lima jam dari Ranu Kumbolo, akhirnya sampai juga kami di Hutan Kalimati. Sebuah daerah yang sangat luas dan bahkan mungkin sama luasnya dengan Oro-Oro Ombo. Daerah berpasir dengan ditumbuhi oleh rerumputan gersang yang dikelilingi oleh pohon-pohon pinus dan beberapa jenis lainnya. Kami pun bermalam di Kalimati bersama ratusan pendaki lainnya sebelum ke Mahameru.
1345576079184805403
Kalimati 
Jejak Gie
134557581710407985
Gie-bawah kedua dari kanan 
Perjalanan dari Kalimati menuju Arcopodo kami tempuh dalam waktu satu jam, dengan medan yang begitu curam dan terjal. Longsor terjadi di sisi kanan dan kiri jalanan yang sempit. Sesekali saya melihat beberapa nisan sebagai kenangan pendaki-pendaki yang hilang dan meninggal di Semeru. Seperti gunung api lain, Semeru juga adalah satu ironi. Antara surga dan neraka. Puluhan bahkan ratusan nisan pendaki yang hilang atau meninggal disana sama sekali tak menyurutkan niat pendaki lain untuk mendaki. Padahal nisan tersebut dipajang sebagai peringatan akan bahaya gunung api. Tapi, hal itu tidak cukup efektif nampaknya.
Masih menjadi tanda tanya besar: ribuan pendaki tiap tahun mengunjungi Semeru dan telah banyak pula yang meregang nyawa disana. Tidak ada data pasti berapa jumlah pendaki yang meninggal, tapi saya yakin sudah ratusan atau bahkan ribuan. Setidaknya prediksi tersebut muncul dari banyaknya nisan yang berjejer sepanjang jalur Arcopodo-Kelik. Entah yang hilang tidak ditemukan jasadnya atau yang ditemukan. Untuk apa mendaki jika hanya menghantarkan nyawa ke puncak?
Tak peduli bahaya yang mengintai. Barangkali itulah yang dicintai oleh pendaki termasuk saya. Karena tantangan dan tingginya resiko mendaki itulah alasannya. Dan, Gie barangkali juga punya alasan yang sama. Seorang muda yang suka tantangan, pun cinta tanah airnya. Ia berpendapat bagi siapa saja yang ingin menikmati dan mengenal lekuk tubuh ibu pertiwi, maka mendakilah.
Perjalanan dari Arcopodo-Puncak butuh perjuangan luar biasa. Longsoran yang terjadi di sisi kanan dan kiri jalur pendakian, ditambah dengan pasir yang berterbangan membuat perjalanan terasa begitu panjang. Antrean para pendaki yang ada di depan kami pun menjadi hambatan selanjutnya. Kami harus antri dengan ratusan pendaki untuk bisa sampai ke puncak. Sesekali terpleset dan terjatuh karena pasir yang licin. Satu langkah ke atas harus dibayar dengan dua langkah ke belakang.
Sesaat kemudian, tubuhku terasa ringan dan melayang. Berada di lautan pasir yang luas, terdapat tiang aluminium sebagai tempat berkibarnya sang Merah Putih, ratusan pendaki memadati tempat tersebut. Tak ada tempat yang lebih tinggi lagi untuk didaki. Inilah puncak tertinggi di Jawa. Dan saya akhirnya merasakan juga bagaimana sensasi menjadi orang tertinggi di Pulau Jawa. Menundukkan kepala dan bersyukur atas karunia-Nya.
Lautan awan yang membentang sampai batas cakrawala menjadi sajian menarik pagi itu. Jonggring Saloko—sebutan untuk kawah Semeru, menyemburkan asap keabu-abuan tebal setiap 30 menit sekali. Tepat di sebelah bibir kawah terdapat nisan sebagai peringatan meninggalnya Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. Saya mencoba merasakan apa yang dulu Gie rasakan pada pagi 17 Desember 1969 silam.
134557614429047860
Nisan in memoriam Gie-Puncak Mahameru 
13455762221252828641
in memoriam Gie-Idhan, Puncak Mahameru 
Gie terlelap berkasur butiran pasir Semeru pagi itu. Jasadnya dingin, sudah rebah berselimut kabut malam. Matanya terkatup rapat, serapat katupan bibirnya yang membiru. Seorang petualang yang selalu tersenyum ketika menghadapi berbagai tekanan itu diam tak bergerak. Ia telah melewati kehidupan yang penuh warna dan sarat makna. Tak ada lagi seorang intelektual bebas.

Surat Herman Lantang Untuk Soe Hok Gie

Surat Herman Lantang Untuk Soe Hok Gie
Herman Lantang

Pada peringatan 44 tahun kematian Soe Hok Gie dan Idhan Lubis, Herman Onesimus Lantang, sahabat karib Soe Hok Gie yang menjadi pemimpin pada pendakian tersebut, mengunjungi prasasti Soe Hok Gie di Museum Taman Prasasti, Jalan Tanah Abang I, Jakarta Pusat. Senin, (16/12). 

Hanya Herman yang sempat datang. Tiga anggota survival tim pendakian Semeru 1969 lainnya yang masih hidup, yaitu Aristides Katoppo, Abdurachman, dan Rudy Badil tidak dapat hadir karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Setahun belakangan ini, berembus rumor miring terkait peristiwa kematian Soe Hok Gie dan Idhan Lubis, yang dinilai konspirasi, membuat Herman Lantang melayangkan surat untuk sahabat seperjuangannya, Soe Hok Gie. Di dekat prasasti Soe Hok Gie, Herman membacakan secara spontan. Berikut isinya:

Soe yang baik,

Gak terasa ya udah 44 tahun lu berangkat tinggalin kita, ternyata gue sekarang udah menjelang umur 74, Soe. Jadi udah tua, tapi gue yakin Tuhan masih makai gue, Tuhan punya maksud memberi gue umur panjang, gak kayak lu dipanggil cepat. Dan, lu juga memberi dampak yang hebat buat orang-orang. 

Gak terasa Soe, sorry gue sih niatnya masih pingin napak tilas ke Semeru, pasti masih bisa, walaupun gue sekarang udah patah kaki, pakai dua tongkat, udah stroke. Tapi gue yakin gue bisa, cuma satu, kondisi gak memungkinkan, gue harus terbang ke Malang dan pakai mobil ke arah Ranu Pane, baru gue jalan, bisa. 

Berapa lama pun gue bisa naik turun Semeru, gue yakin bisa. Tapi kondisi gak memungkinkan, jadi terpaksa untuk tahun ini kita gak tapak tilas tapi datang ke tempat nisan lu, di Taman Prasasti, untuk ngumpul dan ngenang akan kebesaran Tuhan.


Gua prihatin Soe, Mapala UI sekarang gak memperingati ultah Mapala tanggal 12 yang lalu. Dan juga Mapala tidak buat acara untuk peringatan kepergian kalian 16 Desember. Tapi, that’s life ! Itu lah hidup, yang penting kita teman-teman lu masih tetap mengenang lu dan menjadi kenang-kenangan indah. Dan, menjadi satu pelajaran buat kita semua akan kebesaran Tuhan.

Di Taman Prasasti udah keren banget Soe, yang aslinya lu cuma punya nisan, "Nobody Knows The Trouble I've Seen" (Negro Spiritual Song). Yang lainnya udah dipugar secara keren untuk umum, tamannya bagus, tempatnya bagus, tenang. 

Gue kemari tadi pagi, Joyce berangkat ke Cikini. Joyce bini gua, lu gak tahu kan gua akhirnya kawin juga?, dia jaga kemenakannya Retno Momoto, bininya Benny Mamoto yang tahun 1970 pernah ikut tapak tilas ke Semeru.

Gue sendirian di sini, tapi gua senang ditemanin teman-teman pecinta alam yang mengagumi lu, sialan! Emosi lagi kumat!, terima kasih Soe, (menangis, suara tertahan beberapa detik), lu menjadi teladan (nangis lagi) buat generasi penerus (nangis) walau lu udah gak ada, tapi pemikiran lu menjadi panutan orang-orang (suara terbata-bata).

Gua sedih, soal peristiwa Semeru, ada orang yang masukin ke Facebook dan orang-orang yang gak ngerti kita, gak ngerti persahabatan kita, mancing-mancing supaya gua panas, sebab kelemahan gue dari dulu kan gitu, cepet marah dan panas. Tapi puji Tuhan, gue dikaruniakan kebijaksanaan makin tua dan kesabaran dan gue belajar untuk jadi humble.

Gue sampai sekarang masih punya niat untuk datang ke Semeru, malah dengan Joyce punya niat untuk ke puncak cartenz, itu bisa. Eh by the way, itu rumah kita mau dijual, dan kalau sudah laku bakal pindah ke Curug Nangka di Bogor. 

Di situ gua akan dirikan perpustakaan, Benny Mamoto almarhum punya buku banyak kayak lu kan, buku- buku terlarang, Lenin, Mau Tse Tung, Bung Karno, Tan Malaka, kayak buku lu, untuk perpustakaan umum. Sayang, buku lu yang di Yayasan Mandalawangi gak jelas entah kemana.

Oke, itu aja, ya semacam berkeluh kesah. Kayak lu kan biasa begitu sama gue. Ok Gie, sampai ketemu di sana. Tungguin gue ya, bye.

Sabtu, 28 Juni 2014

sisi positif saat melakukan kegiatan di alam bebas


sisi positif saat melakukan kegiatan di alam bebas


Sisi Positif Kegiatan Alam Bebas yang selama ini banyak di ragukan oleh beberapa kalangan. Bahkan sering kita mendengar sebuah untaian kalimat: Untuk apa naik gunung jika nanti turun juga? Bagi orang awam, mendaki gunung, mengarungi arus deras, menyelusup dalam gelapnya goa, memanjat tebing memang dipandang sebagai suatu kegiatan yang sia – sia.

Pada mulanya mereka memang mendapat kepuasan setelah menjawab tantangan dan menikmati panorama indah yang disodorkan alam bebas. Tetapi dari pengalaman naik turun gunung itu, pelan – pelan mereka mendapat sesuatu yang lebih. Bukan lagi sekedar kepuasan mencapai puncak ketinggian. Sifat – sifat positif secara perlahan akan terbentuk, sifat – sifat yang memang diperlukan pada saat – saat bertualang maupun dalam kehidupan sehari – hari.

Sifat – sifat tersebut misalnya, berani mengambil keputusan. Di dalam situasi yang kritis, kita dituntut untuk secepat mungkin mengambil keputusan dengan bijak dan kepala dingin. Dan yang pasti keputusan tersebut tidak akan membahayakan keseluruhan tim, apalagi pada saat tersebut kita bertindak sebagai ketua rombongan.

Perselisihan bukanlah barang asing dalam dunia petualangan. Yang muncul akibat kondisi mental dan phisik yang sudah letih, sehingga kita mudah sekali tersinggung. Tapi karena kondisi alam bebas yang menuntut kerjasama, para petualang tidak bisa mengumbar emosinya begitu saja. Sedikit demi sedikit emosi pun dapat dikendalikan, sehingga tidak tertutup kemungkinan perselisihan terlupakan.

Dengan naik gunung pun kita berlatih memotivasi diri. Karena di gunung yang menjadi penghalang utama adalah si pendaki itu sendiri. Capek – lah, dingin – lah, masih jauh – lah hingga mereka tidak mau melanjutkan perjalanannya. Kalau saja mereka bisa mengalahkan perasaan itu dalam kehidupan sehari – hari, ini bisa sangat berguna pada saat kita menghadapi masalah pelik.

Begitu juga dengan sifat cermat membuat perhitungan dan tidak mudah mengeluh. Kondisi alam bebas yang sulit diduga menuntut persiapan dan perhitungan yang matang, kalaupun ada yang meleset harus kita hadapi dengan pikiran dingin dan lapang dada tanpa saling menyalahkan. Di tengah hutan kita akan mengeluh kepada siapa, toh yang kita keluhi pun dalam kondisi yang sama, malah – malah keluhan kita bisa mengendorkan mentalitas rekan lainnya.

Dalam melakukan aktivitas ini kita dituntut untuk selalu jujur, misal suatu ketika kita melakukanpendakian seorang diri dan tidak mencapai puncak. Bisa saja kita bilang sampai dipuncak, toh tak ada saksi yang akan menyanggahnya, disinilah kita harus jujur, karena pengalaman yang terjadi mungkin berguna bagi teman – teman yang lain. Bila kita sudah mencapai tahap ini, puncakbukan lagi menjadi sasaran utama. Begitu pula dengan kebanggaan yang dulu sampai – sampai bisa menyesakkan dada karena berhasil menaklukkan sebuah puncak, perlahan akan hilang. Karena yang lebih esensi dalam tahap ini adalah bagaimana kita mendapatkan tantangan baru dan bagaimana memecahkannya.

Juga mengurangi nafsu merusak seperti corat – coret, memetik Edelweis dan membuang sampah sembarangan sudah lama mereka tinggalkan. Karena motto “Jangan ambil sesuatu kecuali photo dan jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak“ sudah melekat pada diri mereka. Tetapi semua ini adalah proses yang harus dilalui oleh semua orang untuk menjadi pecinta alam sejati.

Untuk menjadi seorang petualang yang baik kita harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang cukup, peralatan dan perbekalan yang memadai, mental dan phisik yang baik serta daya juang yang tinggi. Tanpa itu jangan harap kita bisa selamat dalam melaksanakan aktivitas petualangan, sedangkan mereka yang telah cukup memiliki segala sesuatunya pun terkadang tidak luput dari resiko berat aktivitas outdoor sport ini.

Semua aktivitas yang dilakukan manusia mempunyai resiko, begitu pula dengan aktivitaspetualangan di alam bebas. Ibaratkan seorang pelaut yang harus meninggalkan keluarganya berbulan – bulan, itu adalah resiko dari profesi keahlian yang digelutinya.

Kaum awam seringkali mengidentifikasikan kegiatan outdoor sport sebagai aktivitas yang dekat dengan kematian, padahal para petualang sebetulnya adalah orang – orang yang menghargai kehidupan, hal ini terlihat bagaimana mereka menerapkan safety procedure dalam setiap aktivitasnya. Kalau bicara soal kematian, di atas tempat tidur pun apabila Tuhan menghendaki, kita semua bisa mati atau bisa kita lihat bagaimana banyaknya orang mati karena kecelakaan lalu lintas. Jadi tidak perlu takut melakukan aktivitas petualangan di alam bebas.

Filosofi Pendakian Gunung adalah gambaran nyata bagi para pecinta pendakian gunung tentang hal – hal dalam diri yang sering mengatasnamakan para petualang. Pada masa kini, mendaki gunung adalah kegiatan yang bisa dilakukan secara acak hanya untuk mengisi waktu luang ataupun hanya sekedar ingin disebut Pecinta Alam. Dan disinilah Filosofi Pendakian Gunungterbentuk.

Jika kau ingin tahu lebih jelas mengenai sifat asli orang – orang dekatmu atau sifat asli dirimu sendiri, ajaklah mendaki gunung. Di atas sana, kau akan menemukan bahwa kau tidak bisa menyembunyikan karakter aslimu. Kau akan menjadi dirimu sendiri, sepenuhnya.

Jika egois, maka di atas sana kau akan egois. Jika penakut, maka di atas sana kau pun akan banyak diam. Jika kau pengeluh, maka kau tidak akan berhenti mengeluh sepanjang perjalanan. Dari situlah kita akan semakin tahu kekurangan dan kelebihan diri masing – masing, dan kemudian kita bisa saling introspeksi diri.

Benar sekali, mendaki gunung tak jauh berbeda dengan kehidupan. Terkadang kita melewati tanjakan yang terjal, hingga kita hampir menyerah, terkadang juga kita menyusuri jalanan di tepi jurang, harus hati – hati melangkah karena jika tidak, kita bisa terpeleset. Ketika terpeleset mampukah kita melanjutkan perjalanan, atau memilih mundur dan turun untuk selanjutnya pulang?

Terkadang melewati turunan yang curam, terkadang hanya padang ilalang datar ratusan meter. Terkadang harus berhenti untuk melepas lelah setelah perjalanan panjang.

Seperti halnya hidup, ketika menempuh perjalanan kita banyak mengeluh karena lelah atau menikmati saja pemandangan sekitar. Itu adalah pilihan. Dengan jalur yang sama, beban yang sama, sikap pendaki satu dengan yang lain tentu akan berbeda. Beratnya beban di punggung adalah bekal kita. Tidak murah memang segala bekal kita namun sangat sepadan dengan apa yang akan kita nikmati selama mendaki gunung.

Sesekali kita membutuhkan orang lain untuk berpegangan ketika melewati titian. Terkadang kita harus mempercayakan nyawa kita kepada teman kita ketika kita perlu memanjat bagian gunung berupa tebing yang curam. Sesekali kita membutuhkan teman kita untuk memasang tenda. Sesekali kita membantu merawat teman yang sakit atau cidera dalam pendakian.

Di gunung kita hanyalah penumpang, numpang lewat, numpang tidur, numpang buang air. Sering terjadi hal – hal di luar akal sehat dan logika ketika kita tidak mengindahkan “tata krama” di gunung. Disadari atau tidak, percaya atau tidak, hukum sebab akibat, berlaku sebagaimana kehidupan sehari – hari. Bagaimana kita menempatkan diri di gunung, terhadap penduduk setempat, terhadap pepohonan, sungai, satwa, dan sebagainya merupakan gambaran bagaimana kita hidup sehari – hari. Bagaimana perilaku seseorang di gunung adalah perilaku sesungguhnya dia di kehidupan sehari – harinya.

Mendaki Gunung Adalah Tentang Kebebasan karena mendaki gunung biasanya identik dengan kegiatan para pecinta alam. Menembus badai, mencari jejak dengan satu tujuan, yakni puncak! Dan pada masa kini dan mungkin masa kedepan, banyak orang mendaki gunung dengan berbagai macam tujuan.
Jadi, mendaki gunung itu adalah tentang kebebasan.
Take nothing but picture, Leave nothing but footprint, Kill noting but time.

pendaki kecil yang sukses menggapi puncak gunung gede

pendaki kecil yang sukses menggapi puncak gunung gede
Diaz
Dias namanya, pendaki kecil yang berhasil mencapai puncak Gunung Gede pada (28/4) ini amat gesit dan lincah. Selama perjalanan menggapai puncak, Dias tak nampak lelah sama sekali namun yang ada penuh semangat dan suka cita. Bahkan ketika ayahnya meminta break untuk istirahat sejenak, Dias menantang ayahnya untuk terus tetap berjalan.
Ayahnya yaitu Pakdhe Tekad, yang kerap kami “Team Ranggati Adventure” menyapanya, begitu amat kerepotan mengimbangi anaknya, begitupun dengan kami “Team Ranggati Adventure” yang ikut dalam pendakian “21 April” Tahun 2013 di Gunung Gede itu.
Setelah semua peserta dan panitia bermalam di Alun-alun Surya Kencana (salah satu tempat camp Gn. Gede), ke esokan paginya Dias mengalami Mountain sickness dan membuat Pakdhe Tekad dan semua team panik, namun semua bisa teratasi dan Dias kembali sehat seperti sediakala. kami pun melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Gede dan akhirnya Dias pun berhasil menggapai Puncak 2958 mdpl tersebut dengan selamat dan penuh suka cita walaupun sempat dipapah akibat effect Mountain sickness.